Ketika menulis ini, teringat Surah Al-‘Asr ayat 1-3:
(1)
Demi masa,
(2)
Sungguh,
manusia berada dalam kerugian,
(3) kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk
kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.
Urusan duniawi merupakan urusan yang sangat mampu menggoyahkan hati manusia. Betapa tidak, karena duniawilah yang hari ini bisa manusia rasakan. Hal yang buruk, ketika manusia lebih condong kepada duniawi. Bukan hal yang baik pula, ketika manusia tidak menyelesaikan urusan duniawinya. Manusia dituntut untuk bisa tawazun, maka dari itu, menjadi seorang yang bisa menyelesaikan urusan duniawinya tanpa melupakan hubungannya dengan Rabbnya, bukan suatu hal yang mudah. Akan menjadi sulit jika ia tak memiliki pegangan yang kuat. Sebaliknya, akan menjadi mudah ketika ia memiliki pegangan yang kuat di kedua tangannya.
Pegangan disini ialah sahabat yang memiliki visi dan misi yang sama. Mereka saling berpegangan tangan, merangkul, mengusap air mata, dan saling berbisik “kuatkan dan jangan sekali-kali meninggalkan”. Betapa bahagianya, bersyukurnya, ketika masing-masing dari kita bersahabat dengannya. Namun tak semua apa yang kita inginkan kadang Allah kabulkan begitu saja. Sahabatmu, orang yang saat ini ada untukmu, bisa jadi ia menjadi orang yang bisa menggoyahkanmu. Kita harus segera menyadarinya, putus rantai goyah itu, mulailah rangkul dan bisikkan “bersabarlah, kuatlah, dan jangan sekali-kali berbalik arah”.
Disinilah poinnya, Allah menyebut “… orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati…”, karena Allah tahu ketika ada sekelompok manusia yang saling berjalan beriringan dan saling menasihati, maka itu lebih baik daripada seseorang yang berjalan sendiri karena keinginannya. Ia lebih mudah diterkam oleh hasutan nafsu dunia.
Goyah adalah hal yang lumrah. Bagi kita yang aktivitas ruhiyahnya masih terengah-engah. Bagi kita yang masih sering meluapkan amarah. Bagi kita yang lebih banyak memandang keburukan orang lain. Tanpa kita sadari, bahwa kitalah yang justru sedang melakukan keburukan.
Bagaimana hari-harimu tanpa aktivitas ruhiyah ? Bagaimana hari-harimu tanpa sahabat yang tak sungkan menasihati ? Ketika kita telah memiliki keduanya, kemudian meninggalkannya begitu saja, maka bersiaplah untuk menjadi dirimu yang serba goyah, tak ada lagi yang memegangmu erat, tak ada lagi yang mengingatkanmu akan manisnya setelah perihnya pengorbanan. Bersabar memang selalu membuat kita menghela nafas panjang, dan dihela nafas itu ada dada yang melapang dengan sendirinya. Seraya bibir berucap, ”Astaghfirullahal’adzim”
Jika bersama saja kita masih goyah, bagaimana jika hanya seorang diri ?
Cilandak, 13 Juli 2018
1:11 am

Komentar
Posting Komentar