Bersama


Kurang lebih dua tahun yang lalu ketika saya menjadi mahasiswa baru di Universitas Negeri Jakarta, ada kegiatan mahasiswa baru yang biasa orang sebut dengan “ospek”. Gambaran ospek yang waktu itu sangat mengerikan, identik dengan perpeloncoan, bullying, dll. Namun, saya menemukan hal yang berbeda di agenda ospek ini. Disela-sela padatnya agenda ospek (Masa Pengenalan Akademik), dari pagi hingga sore hari, yang membuat hati saya tersentuh adalah adanya waktu untuk Sholat Dhuha dan agenda mentoring. Dari sini, semuanya bermula.
            Ketika itu, saya berpikir kelompok mentoring (yang dulu disebut kelompok Gen Biru –Generasi Berkarakter, Intelektual, Religius, Unggul-) adalah kelompok yang hanya untuk info seputar MPA. Ketika MPA selesai, kelompok itupun juga akan bubar (namun ternyata tidak, bahkan masih ada dan berjalan hingga sekarang). Singkat cerita, dikelompok itu saya berada bersama teman satu prodi dan mentor yang saya nggak kenal sama sekali. Kecil, wajahnya asing, tapi saat MPA dia terlihat sibuk di belakang layar. Darisitu saya berpikir, dia ‘bukan orang biasa’. Senyum dan kata-katanya yang menyejukkan saat MPA, sudah seperti “ciri khas” dia hingga sekarang.
            Seiring berjalannya waktu, pasca MPA, mentoring ini masih berlanjut. Banyak saran dan solusi yang diberikan oleh kakak mentor terkait akademik dan hal-hal lain. Hingga akhirnya, kesabaran, kesederhanaan, dan keramahannya telah berhasil “menyentuh dan mengambil hati” saya. Membuat saya nyaman berada di lingkaran ini, hingga rindu jika mentoring ini libur atau satu kali pun tak bertemu wajah-wajah mereka. Dibalik kesederhanaanya itu, ternyata dia adalah orang yang “wow”, organisatoris dan sempat memegang jabatan strategis di BEM Jurusan dan Fakultas, yang saat inipun (dimasa-masa harusnya udah fokus nyekrip) dia masih bersedia mengurus urusan orang banyak a.k.a masih lanjut nge-BEM di tingkat Universitas. Satu kata untuk dia, “Menginspirasi”.
            Akhirnya, segala apa yang dia lakukan, membuat saya pribadi, dan (mungkin) teman-teman se-lingkaran menjadi semangat dan terinspirasi untuk aktif di organisasi, tanpa mengenyampingkan akademik. Karena ternyata, kita punya misi kenapa orang-orang yang aktif mentoring juga harus aktif di lembaga. Ialah untuk berdakwah. Karena berdakwah adalah kewajiban bagi seorang muslim, dan merupakan cara kita mengamalkan ilmu-ilmu yang diperoleh di mentoring/halaqah/liqo’.
            Hingga hari ini, sudah dua tahun saya ikut mentoring/halaqah/liqo’. Proses hijrah saya bermula dari mentoring, tidak mudah memang, banyak ujian, dan saya masih banyak kurangnya. Tapi bukankah Allah mencintai hamba-Nya yang berjalan meski dengan tertatih-tatih menuju jalan-Nya ? yang penting, ikhtiar aja dulu. Prinsipnya, “main bareng, jalan bareng, belajar bareng, bener bareng, dan ke surga bareng-bareng”. Karena Allah lebih suka jika kita berjamaah dalam menyeru kebaikan.
            Saya bangga masuk UNJ, saya bangga diperkenalkan dengan mentoring/halaqah/liqo’, saya bangga dipertemukan dengan kaka mentor saya, dan saya bangga bisa diberi kesempatan belajar bener bareng teman-teman se-mentoring.
            Untuk kamu, kakak mentor saya, saya bangga, saya senang, dan saya nggak salah untuk menyebut “Manusia Kuat”.

            Untuk yang masih belajar bersama di lingkaran, saya bangga dan senang bisa belajar bareng, dan mempersiapkan perbekalan menuju-Nya.

Komentar