Hari Merdeka : Bukan Sekedar Perayaan, namun Perjuangan



Oleh : Dinda Marta A.

“Jangan kau tanyakan, apa yang sudah negara ini berikan padamu. Namun tanyakan pada dirimu, apa yang telah kau berikan pada negaramu.”

Tak cukupkah kiranya kata-kata tersebut membuat kita sebagai anak bangsa, pemuda, pewaris peradaban, dan pemimpin bangsa masa depan untuk merefleksi diri, sejauh ini apa yang sudah kita lakukan untuk bumi pertiwi ?

“Aku ingin mengubah duniaku, namun aku tak mampu. Maka aku kecilkan cita-citaku, aku ingin mengubah negaraku, namun ternyata aku tak mampu. Lalu aku bercita-cita, aku ingin mengubah keluargaku, ternyata aku tak mampu. Lalu aku bercita-cita, aku ingin mengubah diriku sendiri.”

Gedung-gedung yang kokoh berasal dari bata-bata yang kecil. Setiap mozaik yang besar, tersusun dari mozaik-mozaik yang kecil. Begitu pula, sebuah negara bisa maju, jika setiap kita memberikan sumbangsih kecil sebagai wujud peduli. Wujud kepedulian itu sebagai salah satu kontribusi kita, ia tak memandang laki-laki atau perempuan. Maka, bagi kita khususnya perempuan, bukan alasan untuk tak ikut “berjuang”. Bukankah dahulu banyak perempuan yang juga melakukan perjuangan untuk kemerdekaan Indonesia ?

Bukan hanya yang berjuang dengan senjata, namun juga berjuang dengan pemikiran-pemikirannya untuk melahirkan generasi perempuan yang merdeka dan cerdas. Namanya kini menjadi nama salah satu gedung di Kampus Pendidikan tercinta. Dewi Sartika. Mengapa namanya yang dipilih dari sekian banyak pahlawan wanita yang ada ? Dewi Sartika merupakan salah satu pejuang pendidikan bagi kaum perempuan. Sejak kecil ia telah menunjukkan minatnya di bidang pendidikan. Ia sering bermain sekolah-sekolahan dengan teman perempuannya, ia memerankan sebagai seorang guru. Hingga beranjak dewasa, Dewi Sartika mendirikan sebuah sekolah bernama “Sekolah Isteri”. Keinginannya agar para perempuan bisa memperoleh kesempatan untuk menuntut ilmu pengetahuan dapat tercapai. Walau pada saat itu, sekolah yang ia dirikan hanya terdiri dari dua kelas sehingga tidak cukup untuk menampung semua aktivitas sekolah. Saat itu, Dewi Sartika mengajarkan para perempuan untuk berhitung, membaca, menulis, menjahit, dan pelajaran agama. Sekolah Isteri yang tadinya hanya berjumlah sekitar dua puluh murid, semakin hari semakin mendapat tanggapan positif dari masyarakat. Sehingga muridnya pun juga bertambah, begitu pula dengan ruangan kelasnya.

Dewi Sartika ingin mendidik para perempuan agar menjadi istri yang terampil, mandiri, cerdas, dan luwes. Walaupun dengan berbagai kesulitan, terutama kesulitan ekonomi untuk menutupi biaya operasional sekolah. Hingga ia rela membanting tulang agar sekolahnya tetap berlanjut. Jerih payahnya saat itu tak ia rasakan, ia hanya merasakan kepuasan karena berhasil mendidik kaumnya. Perjuangannya itu memberikan inspirasi bagi para perempuan di pelosok negeri untuk membangun Sekolah Isteri. Kini, Dewi Sartika memang telah tiada. Namun namanya tetap tercium harum sebagai tanda perjuangan di tanah pendidikan.

Dan kini, perjuangan itu tak cukup untuk hanya sekedar dirayakan. Namun lebih dari itu, perjuangan harus dilanjutkan. Bukan dengan bambu runcing, atau senjata lain. Sebagai perempuan, kita punya peran untuk ‘melahirkan’ generasi-generasi cerdas pemimpin negeri. Bagaimana caranya ? Perjuangan Dewi Sartika perlu diteladani. Jika hari ini telah banyak perempuan yang cukup memiliki ilmu, maka jika tiap-tiap perempuan itu mau untuk berbagi kepada ‘mereka’ yang tak memiliki kesempatan menikmati bangku pendidikan, maka itulah sebenarnya “melanjutkan perjuangan”. Banyak kekurangan di negeri ini, tak lantas menjadi alasan untuk pergi.

Selamat Hari Merdeka untuk negeri tercinta !

Komentar