Untukmu, Sang Hujan


Bukan kita
Yang mendengar, yang melihat, yang merasa, yang memeka
Bukan, bukan kita
Kita sedang terpenjara dalam  retorika,
buaian senjata dalam kata,
terperosok nan jauh di dada

Kita, adalah buta, sudah barang tentu, kau dan aku tahu
Bagaimana rumput nan hijau menjadi layu, air menjadi kaku,
tak bersahabat dalam rindu, tak mesra dalam sendu
Menghujam rerumputan nan elok...
Hujan, hujan, hujan, air mata..
Air mata hujan, Hujan air mata

Kita, adalah tuli, bagaimana kau dan aku tak dengar
Rintihan rerumputan. Merintih, menangis, menjerit
Bengok sang hujan.. Memekik, mencekik..
Bengis, mengiris.. Rerumputan, kini menangis

Kita, adalah bisu, diam mendendam tenang bak air laut
Tak gupuh melihat heboh, tak heran mendengar intoleran
Lalu apa ? Bukan kita
Yang terindah dalam indah, yang terkaya dalam kaya

Kita ? Yang terburuk dalam indah, yang terperosok dalam kaya
Sugih, tapi merintih, bodoh !  bedebah !
Negeri lelucon, dalam dongeng nyata
Ini, bukan kita, ini mainan !

Bukankah rumput dihujani untuk lebih indah ?
Tapi tidak, hari ini rumput dihujani
Untuk mati, dalam gemerlap ceremoni
Hujan ini melangit, tak membumi
Ia menginjak, meludah, memecah bumi
Jangan sekali-sekali berpuisi hanya ketika diatas langit

Kita dan kau adalah sama, bernostalgia dalam duka dan ria

Tetap, Rabb ada diatas hujan.. Rabb diatas langit.. Rabb, sudah pasti tempat kembali


-dma-

Komentar