Ada satu hal yang ingin aku ceritakan padamu
Tentang suatu masa, dimana tiada yang enggan untuk berjuang melawan kekafiran
Tiada yang menyerah untuk berjalan di jalan dakwah
Yang amat berliku, panjang, sulit, dan hampir-hampir tak terlihat mengenakkan di dunia
Bukan, bukan tentang laki-laki ataupun perempuan
Jalan dakwah adalah jalan semua ummat
Jangan pernah salahkan siapapun, apapun
Mari periksa keimanan kita masing-masing
Sungguh aku teramat malu terhadap salah satu shahabiyah,
Saudara Aisyah Ummul Mukminin
Putri Abu Bakar As-Sidiq
Istri Zubair bin Awwam
Ibunda Abdullah bin Zubair
Pejuang dakwah Islam
Adalah Asma' binti Abu Bakar
Yang rela berjalan sejauh 7 km untuk melaksanakan amanahnya membawakan makanan untuk Rasulullah dan Abu Bakar ke Gua Tsur
Di tengah kondisinya yang sedang hamil, ia berjalan, mendaki, masih dengan resiko nyawa jika kafir Quraisy mengetahuinya
Wahai Sang Dzatun Nithaaqain
Kerelaanmu membagi selendang hamilmu
Menjadi dua, untuk selendang membawa makanan Rasulullah
Sungguh tak ada yang perlu diragukan dari keimananmu
Militansi berjuang sudah ada pada dirimu
Jika ada kata yang bisa lebih menggambarkan
Ah, andai saja
Itulah dirimu, Asma'
Ketika Abu Jahal datang ke rumahmu, dan bertanya :
"Dimana Muhammad dan ayahmu (Abu Bakar) ?
Kau tetap menjaga ke-amniyah-an demi keberlangsungan dakwah
Hingga merelakan darah itu keluar dari kepalamu
Juga bagaimana ketaatanmu pada Zubair
Yang tak punya apa-apa, kecuali kuda
Dengan kesabaran dalam menghadapi kesulitan hidup dalam berbagai kekurangan
Kau masih saja berusaha taat serta menjaga keridhaan Zubair
Bukan, itu bukan apa-apa
Bagi seorang Asma', jalan dakwah lebih dari itu
Perang Yarmuk menjadi saksi bisu keberanian Asma'
Bersama Zubair bin Awwam,
Suaminya yang dibunuh oleh Amru bin Jarmuz Al-Mujasyi'i di Wadi As-Siba' (5 mil dari Basrah) ketika kembali dari Perang Jamal
Asma' melantukan sebait syair :
"Esok datang Ibnu Jarmuz dengan seekor kuda penuh semangat
Di hari kegembiraan meski tanpa nyanyian
Wahai Amru, bila kau perhatikan, tentu kau dapatkan
Jangan sembrono, hingga menggetarkan hati
Jangan kau biarkan tanganmu sembarangan
Karena ibumu akan kehilanganmu
Bila kau terbunuh, jadilah seorang yang muslim
Semoga terbebas dari siksaan yang telah dijanjikan"
Tekad dalam perjuanganpun layaknya kau turunkan pada diri Abdullah
Seorang syuhada yang gagah berani
Yang tidak takut apapun, kecuali pada Allah
Hingga satu persatu para tentaranya pergi
Ia tetap kokoh menenggakkan Islam rahmatan lil 'alamin
Pada akhirnya, Abdullah kokoh menggenggam panji Islam hingga maut datang
Dan ketika putramu, Abdullah bin Zubair syahid menemui Sang Rabb :
"Tiada bagi kekuasaan Allah yang tidak mungkin terjadi
Setelah suatu kaum membunuh antara zam-zam dan maqam Ibrahim
Mereka terbunuh oleh kekeringan yang mencekik
Membusuk, dengan berbagai penyakit dan kusta"
Diriwayatkan, bahwa Al-Hajjaj berkata kepada Asma' setelah Abdullah terbunuh : "Bagaimanakah engkau lihat perbuatanku terhadap putramu ?" Asma' menjawab : "Engkau telah merusak dunianya, namun dia (Abdullah) telah merusak akhiratmu."
Apalagi yang ada pada dirimu
Setelah segala keikhlasan, kesabaran, militansi, keberanian, kecerdasan, yang kau berikan pada dakwah ?
Berbagi.
Ya, jiwa dermawan dan mulia, kau jua beri pada dakwah
"Berinfaklah kalian, dan bersedekahlah, dan jangan kau menunda keutamaan. Jika kalian menunda keutamaan, kalian tidak akan pernah mendapatkan keutamaan. Dan jika kalian memberi sedekah, kalian tidak akan kehilangan.
Abdullah pernah berkata," Aku belum pernah melihat wanita yang sangat pemurah melebihi ibuku termasuk Aisyah Radhiallahu anha. Beliau (Aisyah) mengumpulkan apa yang diperolehinya sedikit demi sedikit, lantas setelah itu barulah dinafkahkannya kepada mereka yang memerlukannya. Sedangkan ibuku, dia tidak pernah menyimpan sedikit pun sehingga hari esok"
Sampai pada akhirnya, Allah menakdirkanmu berjuang hingga usia 100 tahun
Tidak pikun, giginya tidak satupun yang tanggal, pikirannya pun tetap kuat dan prima
Begitupun keimanannya masih tetap teguh dalam ketakwaan
Teringat kata-kata Hasan Al-Banna,
Di dunia ini tak ada perjuangan tanpa pengorbanan
Perjuangan dakwah yang mencita-citakan surga, tentu membutuhkan pengorbanan besar dari para aktivisnya
Pengorbanan waktu, pengorbanan harta, pengorbanan fisik, bahkan pengorbanan nyawa
Dan Asma’ binti Abu Bakar telah memberikan contohnya 😊
Semoga kita bisa meneladani sikap dan perilaku beliau, serta bisa menerapkannya pada masa sekarang.
Karena dakwah bukan hanya tugas ulama, ustadz, guru, tapi dakwah adalah tentang aku, kamu, kita, dan ummat 😊

Komentar
Posting Komentar