Oleh:
Dinda Marta A.
“
Seneng nih, bentar lagi jadi mahasiswa. Udah ga pake seragam lagi, tas ga berat
lagi. Ga ketemu pelajaran ini itu, ga ketemu guru yang suka ngomel-ngomel lagi.
Dan bla bla bla yang lainnya.”
Hai
kawan, apa pernah berbicara seperti itu ketika masa-masa di sma akan berakhir ?
lalu, apa yang kalian rasakan saat ini? Ya, sama. Saya pernah juga mengatakan
hal itu.
Menjadi
mahasiswa yang sesungguhnya, tak semudah menjadi mahasiswa yang ada di layar
kaca. Bayangkan ketika mahasiswa menyalahgunakan arti “mahasiswa” itu sendiri.
Ia menjadikan kata mahasiswa sebagai suatu “kebebasan yang negatif”, bebas
bersikap, bebas berpakaian, bebas bersentuhan dengan lawan jenis, bebas
bergaul, bahkan bebas berpacaran. Naudzubillahi min dzalik. Indonesia hanya
akan tinggal nama ketika perilaku para mahasiswanya seperti itu. Tidak ada lagi
hati untuk merasa, tidak ada lagi mata untuk melihat, bahwasanya di luar sana
banyak yang membutuhkan gerakan mahasiswa.
Dahulu
sempat berfikir, bahwasanya ketika telah memasuki dunia kampus kita bebas
melakukan hal apapun, tak ada lagi yang menjaga kita seperti saat di bangku
sma. Ternyata, itu salah. Ya, salah.
Ketika
saya memasuki kampus ini (re: kampus perjuangan, kampus pendidikan), saya dipertemukan
dengan begitu banyak orang-orang shalih. Mereka adalah aktivis kampus, bukan
hanya seorang aktivis yang mengerti organisasi. Mereka adalah aktivis yang
mengerti agama, sehingga mereka bergerak dengan berpegang pada agama. Tak ada
maksiat dalam organisasi, karena mereka mengerti batas-batas antara ikhwan dan
akhwat sekalipun hanya sebagai rekan kerja.
Di
kampus ini pula, saya menemukan sebuah gerakan yang saat ini membuat saya
mengerti arti mahasiswa. Sebuah lingkaran (re: mentoring/halaqah/liqo) yang
selalu saya rindukan tiap harinya, ya di lingkaran itulah saya menjadi tidak
“bebas sembarangan”. Karena saya tahu, menjadi mahasiswa yang sesungguhnya itu
tidak mudah, harus punya ilmu.
Tulisan
ini bukan tentang kampus saya, tapi tentang mahasiswa. Tentu kata “maha” di
depan kata siswa itu bukan hal sepele. Banyak yang harus dipertanggungjawabkan
ketika kata maha itu telah melekat. Bukan lagi seperti siswa yang hanya
berangkat, di kelas, presentasi, mengerjakan tugas, pulang, main. Bukan seperti
itu. Di awal kita telah diperkenalkan dengan apa itu peran mahasiswa. Kenali
satu persatu perannya, letakkan dalam hati hingga ia melekat dan realisasikan
sebagai seorang mahasiswa.
Tugas
utama mahasiswa memang kuliah, namun ketika ia hanya kuliah maka apa bedanya
dengan siswa ?
Kita
tahu, bahwa mahasiswa adalah kaum intektual. Aspirasinya lebih didengar
daripada kaum yang lain. Mengapa ? Karena mahasiswa adalah mitra kritis, ia
punya budaya literasi (baca, tulis, kaji, dan aksi) dan gerakannya tak akan
mati. Bukan sembarang gerakan atau aksi atau demo.
Mahasiswa
terletak ditengah-tengah antara rakyat dan pemerintah. Maka, sudah seharusnya
rakyat yang tertindas, rakyat yang diberi ketidakadilan oleh pemimpin yang
dzalim, rakyat yang menangis karena hak-haknya dirampas itu menjadi bagian dari
diri mahasiswa.
Banyak
yang mengkritik dan menghujat gerakan mahasiswa ? ya itu pasti, karena kita
bergerak di ranah yang berbeda, dimana yang ditindas kita bela, bukan yang
ber-uang kita sayang. Jadikan sebagai wadah untuk mengupgrade kualitas diri,
sebagai pembentukan mental.
Mari
menjadi mahasiswa yang perasa, mahasiswa yang peka pada rakyat, mahasiswa yang
resah ketika rakyat menangis. Sudah bukan zamannya lagi menjadi mahasiswa yang
apatis dan hedonis, suka berhura-hura dan hanya memikirkan nasibnya sendiri.
Karena setiap wangi almamater kita, terdapat hak-hak rakyat tertindas yang
harus dibela.
Hidup
Mahasiswa !
Hidup
Rakyat Tertindas Indonesia !
Komentar
Posting Komentar