Merdeka Ini Untuk Siapa ?






“Tujuh belas Agustus tahun empat lima, itulah hari kemerdekaan kita. Hari merdeka nusa dan bangsa.....” Sepenggal lirik lagu Hari Merdeka, dimana orang-orang mulai anak kecil sampai orang tua akan menyanyikannya ditanggal 17 Agustus. Bukan, tulisan ini bukan untuk mengkritik lirik lagu. Namun, sedikit melihat realisasinya dimasa sekarang.
71 tahun lalu, Indonesia merdeka dari penjajah. Ya, pantaslah mereka merayakannya dengan bernyanyi, karena Indonesia saat itu memang merdeka. Pemimpin kita terdahulu (para pemuda dan orang tua) berjuang hingga mereka tak memikirkan dirinya sendiri. Pikiran, hati, dan jiwa mereka serahkan seluruhnya untuk kemerdekaan bangsa. Agar kedepannya anak cucu mereka tak merasakan penderitaan dimasa mendatang. Pergerakan pada saat itu terjadi diberbagai pelosok negeri, dari sabang sampai merauke bersatu padu demi satu kata, merdeka.
71 tahun mendatang, gedung pencakar langit dijumpai hampir diseluruh kota. Mobil-mobil mewah, ruangan ber-ac, dan segala serba instan ada saat ini. Lalu apa yang salah ? Bukankah ini dampak dari globalisasi ? Ya, benar. Para pemimpin kita saat ini telah menikmatinya, setiap hari. Dengan berbagai fasilitas yang mewah dan kekuasaan yang tinggi, tak jarang pemimpin kita lupa pada siapa ia seharusnya mengabdi. Siapa yang memilihnya hingga ia berada di atas sana, ia lupa. Bahkan justru ia terlihat dzalim pada rakyatnya, gusur sana gusur sini. Jual ini jual itu (tak tanggung-tanggung aset bangsa dijual). Hutang dimana-mana, korupsi merajalela. Hasil jualan, uang hutang untuk siapa ? Untuk koruptor agar mereka korupsi lebih banyak ?
Rakyatmu menangis, para orangtua kehilangan pekerjaannya, anak-anak tak terurus. Mereka menjadi tumbal segala kemewahanmu. Pada siapa kita berharap bangsa ini dimasa depan jikalau bukan pada mereka, anak-anak yang seharusnya mendapat pendidikan saat ini ? Mereka adalah Iron Stock. Jikalau mereka tak dipersiapkan dari sekarang, maka apa jadinya Indonesia 20, 30, atau 40 tahun lagi ? Mungkin Indonesia telah dikuasai asing atau bahkan Indonesia akan hilang dari peradaban. Negeri yang katanya kaya akan alamnya, namun miskin akan sumber daya manusianya. Naudzubillah...
Jauhkan bangsa kami dari pemimpin yang dzalim, pemimpin yang hanya memikirkan nasibnya sendiri, bukan nasib bangsanya. Kami rindu pemimpin yang bijak, bertanggungjawab akan amanahnya, yang selalu mementingkan rakyat-rakyatnya, yang bisa merubah peradaban Indonesia. Kami rindu akan hal itu...
Teman-teman pemuda, masihkah hati kita hidup untuk menghidupi bangsa ini ?
“Jika angkatan muda mati rasa, maka matilah sebuah bangsa”

(Gambar diatas hanyalah sebagian kecil dari banyaknya potret kehidupan anak-anak di Ibukota. Tanggal 19 Agustus 2016 saya bertemu mereka di UNJ, sedang berjualan bendera merah putih. Dan merekalah yang melakukan Kerja Nyata).

Komentar